PERHATIAN

...KLIK PADA JUDUL POSTING UNTUK DAPAT MENAMBAH KOMENTAR...

Kamis, 24 November 2011

Mengakar Bumi Namun Tak Serindang Dulu

Gerakan Pramuka (Kepanduan Indonesia)



Pramuka Sebagai Gerakan nasional yang mengakar dan menjulang sejak 14 Agustus 1961 ini terbukti mampu menjadi alat pemersatu nasional, sebut saja HW dan banyak pandu lainnya telah dengan rela dan ikhlas untuk melebur menjadi  1 gerakan nasional yang kita sebut dengan PRAMUKA, Kepanduan Indonesia dalam hal ini pramuka menjadi satu-satunya kepanduan yang dibentuk untuk menghindari rival dari pandu-pandiu yang ada juga menegaskan bahwa kepanduan haruslah netral dari intervensi apapun atau menjadi underbow kekuatan polotik, majelis maupun kelompok tertentu.

Tidak mengherankan jika PRAMUKA menjadi primadona , inovasi demi inovasi terus terjadi seiring waktu dan perkembangan peradaban. Sebut saja revitalisasi gerakan pramuka, hal ini menjadi salah satu contoh bahwa inovasi dan pembaharuan penting adanya dan sebagai bukti bahwa pemerintah semakin mantap sadar bahwa gerakan pramuka inilah yang mampyu menjadi alat pemersatu bangsa, penanaman identitas nasional, pembentukan karakter kepribadian bangsa dan banyak lainnya.

Lalu mengapa PRAMUKA kian ditinggalkan oleh generasi muda?

Dikutip dari salah satu situs berita nasional bahwa  :

GERAKAN Pramuka (Indonesia Scout Movement) yang lahir pada 14 Agustus 1961 saat ini genap berusia 50 tahun atau menginjak tahun emas. Sebagai satu-satunya gerakan kepanduan di Indonesia, pramuka terbukti memberikan sumbangsih dalam menyiapkan generasi muda untuk membangun masyarakat.
Namun fakta lain menunjukkan kini pramuka makin ditinggalkan oleh generasi muda. Padahal, upaya maksimal merebut kembali hati generasi muda agar kembali menggandrungi aktivitas kepramukaan telah dilakukan, misalnya dengan mencanangkan revitalisasi Gerakan Pramuka per 14 Agustus 2006.
Lewat revitalisasi itu, dari jajaran gugus depan (gudep) hingga kwartir nasional (kwarnas) memformat kembali substansi namun tidak menyimpang dari tujuan awal. Antara lain mengemas berbagai kegiatan dengan materi lebih variatif, tidak lagi monoton, dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Pada tingkatan (pramuka) siaga dan penggalang misalnya, ketika berkemah  tak lagi memakai alat masak tradisional, penerangan juga dengan tenaga listrik, dan tendanya lebih representatif.
Begitu juga pakaiannya tidak selalu seragam lengkap pramuka, kadang bisa berpakaian kaos kontingen ditambah jaket yang modis, misalnya untuk menghalau cuaca dingin. Kegiatan pramuka juga menyentuh dunia teknologi dan informasi seperti Jambore on The Air dan Jambore on The Internet (JOTA/ JOTI). Kepemilikan website dan situs jejaring sosial (Facebook, Twitter, dan lainnya) dari tingkat kwarnas hingga gudep digiatkan untuk menambah semarak pramuka di jagat maya.
Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, tentu saja upaya pembenahan Gerakan Pramuka makin ditingkatkan. Sebelumnya, Pramuka hanya berpayung Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 283 Tahun 1961. Dengan lahirnya UU tersebut, diharapkan Gerakan Pramuka makin kuat karena ada dukungan penuh dari pemerintah dan rakyat yang diwakili oleh DPR.
Orang tua siswa, melalui komite sekolah, dapat berperan aktif mendukung gudep berbasis sekolah. Masyarakat, melalui jajaran perangkat desa, dapat mendukung gudep berbasis komunitas. Sesuai amanat UU, pemerintah mendukung keberadaan gudep sekolah dan komunitas. Pasal 36 Ayat c UU Nomor 12 Tahun 2010 menegaskan bahwa pemerintah pusat dan daerah siap membantu ketersediaan tenaga, dana, dan fasilitas. Dalam era otda, apakah pemkab/ pemkot bersedia mengalokasikan sebagian anggarannya untuk kegiatan pramuka?
Membentuk Karakter
Minimnya jumlah pembina, terutama putri, juga menjadi persoalan sendiri di hampir semua gudep. Terutama pembina yang berpangkalan di SLTP dan SLTA. Meskipun jumlah guru terus ditingkatkan, tidak semua guru mempunyai minat tinggi terhadap kepramukaan sehingga tetap saja gudep d sekolah tersebut mengalami kekurangan pembina.
Dalam satu gudep , idealnya rasio 1 : 10-40, artinya seorang pembina 10-40 peserta didik (murid). Dalam praktiknya saat ini seorang pembina harus menangani 100-400 peserta didik. Solusi yang dipilih oleh sekolah adalah mengambil anak-anak penegak (usia SMA) yang notabene belum mengenyam pendidikan kursus mahir dasar pembina pramuka.  Tentu saja, materi yang disampaikan banyak yang menyimpang. Akibatnya, kadang terjadi kekerasan dan penerapan materi tidak sesuai dengan sistem among.
Pembentukan karakter yang tangguh bagi generasi muda merupakan hal yang penting dan bahkan menentukan nasib bangsa dan negara. Kita sering mendengar perlunya generasi muda memiliki kepribadian yang kuat, bersemangat, ulet, pantang menyerah, disiplin, inovatif, dan mampu bekerja keras. Pramuka harus berperan penting dalam membentuk karakter generasi muda, yang pada muaranya membentuk karakter bangsa.
Seperti dicita-citakan Bapak Pramuka Dunia, Baden Powell saat melahirkan pandu (pramuka) yang menegaskan pengabdian ditujukan terhadap Tuhan (duty to the God), terhadap sesama (duty to others), terhadap diri sendiri (duty to self), juga yang terpenting adalah terhadap Tanah Air: bangsa dan negara (duty to country). Lalu mengapa kita tidak meneruskannya? Selamat Ulang Tahun Emas Pramuka, Jayalah selalu. (10)

Seperti yang tertulis diatas tampak terjadi masalah-masalah yang menjadi pramuka ditinggalkan, namun berbahagialah kawan beberapa waktu kedepan PRAMUKA akan mampu  memandu bangsa kita menjadi bangsa yang lebih maju dan beradap sesuai cita cita pancasila kita. tentunya harus seiring dengan kerja keras kita sebagai anggota, dan pengurus kwartir khususnya. Ikrarkan dan silangkan dalam dada kita bahwa kita akan memandu bangsa kita.

Kamis, 17 November 2011

26 SMA Ikuti Kemah Riset Pramuka di Bogor

 

BOGOR – Sebanyak 26 SMA dari seluruh Indonesia ikuti Kemah Riset Pramuka Penegak Nasional 2011 yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Pramuka Institut Pertanian Bogor (UKM Pramuka IPB), 14 -17 November di Bogor, Jawa Barat.

Ketua pelaksana, Muhamad Andi Suwito mengatakan kegiatan yang bertema ”Wujud Nyata Kepedulian Pramuka terhadap Ketahanan Pangan Nasional” ini merupakan bentuk kepedulian UKM Pramuka IPB dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

“Selain memberikan pengetahuan metode ilmiah atau karya tulis yang benar dalam menyusun penelitian, kegiatan ini juga diharapkan meningkatkan ketrampilan peserta untuk memecahkan masalah krisis pangan,” ujar Andi.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof.Yonny Koesmaryono mengatakan kegiatan kemah ini tidak sekedar kompetisi tetapi juga silaturahmi pramuka penegak Indonesia.

“Di sini adik-adik pramuka penegak dapat mengenal IPB lebih dekat. Kami berharap adik-adik memiliki mimpi untuk melanjutkan kuliah di IPB. Bila pun kelak tidak masuk IPB, kami berharap pengetahuan yang diperoleh di sini menjadi bekal adik-adik sebagai seorang peneliti dan kami sangat berharap adik-adik menjaga semangat meneliti agar tidak luntur,” papar Prof. Yonny.

Prof.Yonny didampingi Pembina UKM Pramuka IPB, drh. Fadjar Satrija, M.Sc. Ph.D membuka acara Kemah Riset Pramuka Penegak Nasional 2011.

Sabtu, 12 November 2011

FILM KEPRAMUKAAN 5 ELANG

 
 1 adegan di Film 5 elang
Kakak-kakak Tegak dega Kabupatewn Blitar sudahkah menonton?. WEhm saya juga bewlum... hewhewhewhh.
Jakarta - Banyak keluhan dialamatkan pada film-film anak-anak Indonesia. Sebagian dari film-film itu memang tokoh utamanya anak-anak, tapi sesungguhnya punya logika cerita yang hanya bisa dipahami orang dewasa. Film '5 Elang' garapan Rudi Soedjarwo ini adalah pengecualian.

Film berdurasi 88 menit ini berkisah tentang persahabatan lima orang yang terlibat dalam perkemahan pramuka. Baron (Christoffer Nelwan) adalah anak Jakarta yang kaya dan maniak mainan mobil RC. Ia harus ikut orang tuanya yang pindah ke Balikpapan.

Di sana, dia harus beradaptasi dengan “anak daerah”. Masalahnya, sekolah barunya itu sedang ada persiapan untuk perkemahan pramuka—sesuatu yang dianggap kurang oke oleh banyak anak, dibandingkan dengan games atau permainan kontemporer lainnya.

Perkenalannya dengan Rusdi (Iqbal D Ramadhan), seorang penggalang yang supel dan selalu optimis, membuat Baron terjebak untuk bergabung dengan regu pramuka, yang memang sedang kekurangan anggota itu. Orang tua Baron pun setuju.

Tentu Baron makin malas, karena ia punya rencana lama untuk liburan ke Jakarta dan bertanding RC. Namun, begitu ia tahu ada pameran RC dari Jepang yang lokasinya tak jauh dari bumi perkemahan, ia pun mau ikut berkemah.

Maka kita pun masuk ke dalam dunia pramuka dan perkemahan, lengkap dengan segala permainan dan perlombaannya. Pemenangnya akan menjadi Pramuka Utama dan menjadi wakil Kalimantan Timur untuk Jambore Nasional, sebuah ajang puncak gerakan ini.

Selain Baron yang ahli elektronik dan Rusdi yang punya jiwa kepemimpinan, adan si gempal Anton (Teuku Rizki) yang ahli perapian dan si tengil Aldi (Bastian Bintang) yang temperamental dan naksir salah seorang peserta wanita di sana.

Seperti lazimnya Pramuka, regu pria dinamai dengan nama binantang, dan regu putri dengan nama bunga dan tumbuhan. Dan keterampilan tali-temali, berbagai sandi, dan morse pun hadir di sini, di samping lomba fisik seperti tarik tambang. Salah satu anggota di regu putri itu adalah Sindai (Monica Sayangbati) yang bertenaga kuat dan dimanfaatkan oleh rekan-rekannya yang tak mau kerja.

Saat lomba mencari jejak, anggota regu itu tercerai-berai. Dan, bahaya pun mengintai: Tim Elang yang sudah tak kompak itu harus berhadapan dengan para begundal pencuri kayu dan satwa liar pimpinan Arip Jagau, di samping harus mengendalikan diri dari rasa takut terhadap penghuni hutan itu. Berhasilkah tim Elang memenangkan pertandingan dan menjadi Pramuka Utama?

Film ini menarik, karena pertama, membuat penonton dewasa mengenang lagi masa-masa mudanya waktu SD, ketika Pramuka diwajibkan. Berbagai macam aktivitas khas Pramuka dihadirkan lagi di sini. Ini memang untuk menyambut 50 tahun Kwartir Nasional—karena itu Ketua Kwartir Nasional Prof Dr dr Azrul Azwar, MPH menjadi salah satu produser eksekutif. Film produksi bersama SBO Films, Indika Pictures dan Kwarnas Gerakan Pramuka ini menjadi natural karena melibatkan 1000 figuran anak Pramuka di dalamnya.

Kedua, film ini mengambil lokasi di luar Jakarta, tepatnya di Balikpapan, dan ini penting mengingat sangat sedikit representasi non-Jakarta dan non-Jawa dalam perfilman Indonesia. Ketiga, film ini cocok untuk penonton anak-anak, sesuatu yang sungguh jarang. Ini karena sang sutradara Rudi Soedjarwo membuat film ini, seperti pernyataannya dalam sebuah wawancara, “seperti membuat film untuk anak saya”.

Keempat, skenario digarap oleh Salman Aristo—yang di sini juga sebagai salah satu produser --yang berpengalaman menggarap film anak-anak semacam 'Garuda Di Dadaku' dan 'Laskar Pelangi'. Ia menggunakan rumus tiga babak yang biasa dilakukan film arus-utama Hollywood: perkenalan para karakter utama di awal cerita, ada konflik yang menyebabkan ikatan dan hubungan kimiawi antar anggota grup makin melemah atau sebaliknya mengental, dan terakhir penyelesaian.

Semua itu dibumbui dengan adegan-adegan a la McGyver yang mengingatkan kita pada 'Home Alone', hal yang acap berhasil menghibur. Juga, perkembangan dan perubahan karakter tokoh-tokohnya terasa enak ditonton. Jadinya adalah film formulaik yang asyik untuk dinikmati anak-anak dan juga orang dewasa yang mendampinginya.

Maka inilah kisah petualangan dan seluk-beluk persahabatan antara lima Penggalang Pramuka. Tepuk Pramuka!

(mmu/mmu)

Pembina Pramuka Dijadikan Profesi

Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan

 Angin segar atau apa ya???? terserah kakak-kakak menyikapi......
SRIPOKU.COM, SEKAYU - Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, berencana menjadikan pembina pramuka sebagai profesi.

Tujuannya untuk mewujudkan pembina Pramuka yang profesional dan tidak hanya sebagai pekerjaan sampingan.

Demikian diutarakan Ketua Harian Kwarcab Muba, Dicky Meiriando SSTP MH, pada pelantikan pengurus Pusdiklatcab dan Pelatih Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Muba, di halaman Kantor Camat Batangharileko, Selasa (8/11).

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Muba H Pahri Azhari, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, SKPD, dan pengurus serta anggota Kwarcab Gerakan Pramuka Muba.

Dicky mengatakan, menjadikan pembina Pramuka sebagai profesi penting untuk direalisasikan. Sebab Gerakan Pramuka merupakan pilar penting dalam pembinaan serta pembinaan karakter generasi muda. Selain itu juga berperan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

Menurut dia, Kwarcab Muba telah menyusun program perekrutan calon pembina pramuka profesional non PNS untuk dibina. Sebelum diangkat menjadi pembina Pramuka oleh Kwarcab, calon pembina akan melalui pendidikan kursus Pembina Mahir Dasar (KMD).

Setelah lulus pendidikan, pembina yang baru tersebut akan ditempatkan di Gugus Depan (Gudep) berbasis desa/kelurahan.

“Sebagai bentuk penghargaan kepada para pembina yang telah mendedikasikan diri akan diberikan uang insentif,” ujarnya.

Dikatakan, pendirian Gugus Depan berbasis desa bertujuan untuk mengakomodir minat generasi muda yang tidak sedang menempuh pendidikan, terhadap Pramuka.

Sebagai pilot project akan didirikan 50 Gugus Depan berbasis desa, tersebar di 14 kecamatan di muba. Dengan begitu, lanjutnya, Pramuka tak hanya menarik minat siswa usia sekolah, tetapi juga merambah kaum dewasa.

“Untuk mengakomodir minat kaum dewasa, kita berencana membentuk Gugus Dharma yang berada di Sekretariat Kwarcab Muba,” tegasnya.

Rencana pembentukan pembina Pramuka yang profesional serta pembentukan Gudep berbasis desa/kelurahan ini mendapat dukungan Bupati Muba H Pahri Azhari, selaku Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kamabicab) Gerakan Pramuka Muba.

Menurut Pahri, dengan dilantiknya pengurus baru Pusdiklatcab Pramuka diharapkan memberikan motivasi bagi pengembangan Pramuka di Musi Banyuasin.

“Selain sebagai motivasi, Pramuka berperan sebagai wadah pembinaan dan pembentukan karakter generasi muba. Pemkab Muba siap mendukung sepenuhnya setiap kegiatan Gerakan Pramuka Muba,” katanya.

Pahri menambahkan, didirikannya Gudep berbasis desa/kelurahan merupakan terobosan yang positif.

Keberadaan Pramuka hingga perdesaan dapat dijadikan sarana untuk menangkal kenakalan dan sebagai wadah kegiatan positif bagi pengembangan kreativitas generasi muda.

Kamis, 10 November 2011

Riwayat Kepanduan dan Kepramukaan Di Indonesia



1.      U M U M
Pada hakikatnya Pola Pembinaan disusun berdasarkan penghayatan sejarah perkembangan kepanduan / kepramukaan di Indonesia. Dengan perkataan lain kondisi nasional Gerakan Pramuka dapat ditinjau dari segi sejarah perkembangannya yang merupakan riwayat dasar kepanduan/kepramukaan di Indonesia.
a.      Perkembangan pendidikan kepanduan/kepramukaan di Indonesia adalah sejalan dan sesuai dengan sejarah perkembangan bangsa Indonesia, dan merupakan bagian dari perjuangan/pembangunan bangsa Indonesia, serta ada kaitannya dengan :
1)    Perintisan kemerdekaan, tahun 1908 – 1928
2)    Konsolidasi kekuatan nasional, tahun 1928 -1945
3)    Perjuangan fisik dan pengisian kemerdekaan (pembangunan nasional) tahun 1945 sampai sekarang
b.      Sesuai dengan strategi Gerakan Pramuka, maka usaha pendidikan kepanduan/kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, serta merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Karena itu, riwayat dasar kepanduan/kepramukaan di Indonesia perlu dipelajari dan dihayati, agar :
1)    Diketahui proses pembentukan dan perkembangan Greakan Pramuka dan diketahui pula peranan apa yang dilakukannya dalam perjuangan bangsa Indonesia.
2)    Diketahui dan diinsafi kedudukan gerakan Pramuka dalam hubungannya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan ketahanan nasional.
3)    Dapat dipahami kebijaksanaan dalam penyelenggaraan pendidikan kepramukaan di Indonesia.
c.      Kepanduan di Indonesia yang sekarang menjadi Gerakan Pramuka berkembang sejak tahun 1912.
Sampai berakhirnya zaman penjajahan Belanda di Indonesia terdapat dua kelompok organisasi kepanduan, yaitu :
1)    Organisasi-organisasi dalam kelompok yang berorientasi pada kepentingan pemerintahan kolonial Belanda
2)    Orgnisasi-organisasi dalam kelompok yang berorientasikan pada kepentingan perjuangan Bangsa Indonesia.
d.      Pada waktu itu kepanduan nasional di Indonesia sudah merupakan suatu wadah pembinaan suatu wadah pembinaan generasi muda, untuk menyiapkan tenaga-tenaga kader bangsa dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan.
Hampir semua perkumpulan kepanduan di Indonesia pada waktu itu adalah sebagai cabang organisasi politik atau kemasyarakatan. Gerakan kepanduan nasional tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan keadaan masyarakat Indonesia sendiri.
e.      Kepanduan nasional pada waktu itu sudah dipandang sebagai tempat pendidik anak-anak dan pemuda Indonesia untuk dengan caranya sendiri (cara kepanduan) dapat mempertinggi budi pekerti, serta menambah kepandaian dan ketrampilan yang sangat berguna bagi pelaksanaan cita-cita bangsa Indonesia. Di dalam hal inilah letak perbedaan prinsip antara kepanduan nasional dan kepanduan bangsa Eropa di Indonesia.

f.       Gerakan Pramuka/Kepanduan nasional di Indonesia dari mulai berdiri dan berkembang, dijadikan alat perjuangan pembangunan Bangsa Indonesia dari generasi ke generasi, dan sasaran utamanya adalah investasi mental, kepandaian dan ketrampilan generasi muda yang diatur sejak umur 7 tahun (usia Pramuka Siaga)
g.      Istilah pandu dan kepanduan “digunakan oleh KH Agus Salim untuk menggantikan istilah asing padvinders dan padvinderij”
2.      GERAKAN KEPANDUAN DIJAMAN PENJAJAHAN BELANDA/JEPANG
a.      Tahun 1912-1922 (fase perintisan kemerdekaan)
1)     Dijaman penjajahan Belanda pada tahun 1912 didirikan cabang N.P.O. (Nederlance Padvinders Organisatie) oleh PJ. Smith atas anjuran perkumpulannya di negeri Belanda.
Dalam waktu singkat berdirilah beberapa organisasi “padvinders” bangsa Belanda di Indonesia, yang akhirnya pada tahun 1914 dipersatukan dalam NIPV (Nederlands Indische Padvinders Viriniging).
2)     Gagasan Baden Powel dalam bukku “Scouting for Boys” sangat menarik perhatian para pemimpin didalam pergerakan Nasional dan dibentuklah organisasi-organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik, sebagai putera/puteri Indonesia seperti yang menjadi kader pergerakan Nasional.
3)     Pada tahun 1916 didirikan “JPO” (Javaanse Padvinders Organisasi) atas inisiatif S.P. Mangkunegara VII di Solo, sebagai Kepanduan Nasional Indonesia yang pertama diorganisasikan secara teratur.
4)     Sampai tahun 1922 Gerakan Kepanduan Indonesia berkembang sangat subur sebagai “onderbouw” organisasi politik atau kemasyarakatan, antara lain :
a)     Budi Utomo mendirikan Nationale Padvinderij
b)     Muhammadiyah mendirikan Hizbul Wathan
c)     Juga Sarekat Rakyat sebagai cabang PKI mempunyai kepanduan sendiri.
b.      Tahun 1922-1928 (lanjutan perintisan kemerdekaan)
1)     Mulai tahun 1922, sejak para pelajar Indonesia yang menggabung dalam perkumpulan pelajar menaruh perhatiannya kepada kepanduan, maka bertambahlah jumlah perkumpulan kepanduan Indonesia a.l. :
a)     Jong Java Padvinderij (J.J.P. tahun 1928 diganti nama Pandu Kebangsaan)
b)     Nationale Padvinders Organisatie (NPO)
c)     Jong Indonesich Padvinders Organisatie (J.I.P.O.)
d)     National Islamietische Padvinderij (NATIPIJ)
e)     Indonesich Nationale Padvinders Organisasi (INPO – Gabungan dari NPO dan JIPO tahun 1928)
f)      Pandu Pemuda Sumatera (PPS)
g)     Sarekat Islam Afdeling Padvinderij (S.I.A.P)
h)     Anzor (bagian dari Nahdatul Ulama)
2)     Jumlah perkumpulan kepanduan Indonesia berkembang sangat banyak tetapi ikatan secara organisatoris antara satu sama lainnya tidak ada.
Kalau pada fase pertama dunia kepanduan Indonesia mengalami perlombaan berdirinya kepanduan-kepanduan yang beraneka warna corak dan sifatnya, maka kemudian timbullah hasrat untuk bersatu.
3)     Pada tahun 1927 soal penggabungan perkumpulan-perkumpulan
c.      Tahun 1928-1945 (konsolidasi kekuatan Nasional)
1)     Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh konggres pemuda tanggal 28 Oktober 1928,benar-benar menjiwai gerakan kepanduan nasional Indonesia untuk bergerak lebih maju dalam rangka konsolidasi kekuatan nasional. Dengan meningkatnya kesadaran kebangsaan Indonesia, maka timbullah tekad persatuan antara organisasi-organisasi kepanduan nasional Indonesia.
2)     Atas kebijaksanaan dan perjuangan para penganjurnya, maka sebagai langkah pertama pada tahun 1929 didirikan semacam badan federasi “Persaudaraan (persatuan) antara Pandu-Pandu Indonesia disingkat PAPI”.
Yang masuk menjadi anggota ialah : JJP, INPO, NATIPIJ, PPS dan SIAP, sedangkan HW belum memberikan kepastiannya.
Sebagai pengurus pertama dipilih Mr. Sunarjo (INPO), Dr. Moewardi (JJP), dan Ramelan (SIAP)
Badan ini bermaksud :
a)    Mempererat persaudaraan antara anggota PAPI
b)    Memudahkan kerjasama untuk mempertinggi nilai latihan kepanduan masing-masing
Pusat pimpinan PAPI berada di Jakarta, sedangkan di daerah-daerah, di mana terdapat lebih dari satu kepanduan anggota PAPI, dibentuk semacam PAPI daerah.
3)     Kepanduan Bangsa Indonesia berdiri
Dengan terbentuknya PAPI, maka tercapailah fase pertama untuk menuju ke arah persatuan.
Sementara itu rencana “Panitia fusi perkumpulan pemuda” telah disetujui oleh Jong Java dan Pemuda Indonesia, dua perkumpulan yang terbesar di kalangan pemuda (Oktober 1928). Panitia tersebut merencanakan untuk mendirikan perkumpulan baru dengan nama “Indonesia Muda” yang tidak mengadakan bagian kepanduan. Putusan tersebut mempercepat proses penggabungan pandu kabangsaan menjadi satu kepanduan, yang lepas dari ikatan organisasi lain.
Azas kebangsaan menjadi pokok dasar kepanduan itu dengan tidak melupakan sifat peraturan yang berlaku di kalangan kepanduan internasional, antara lain sifat universal dengan prinsip-prinsip dasar metodik kepanduan/kepramukaan.
Pada tanggal 13 September 1930 diresmikan berdirinya kepanduan baru ini dengan nama “Kepanduan Bangsa Indonesia” disingkat KBI. Untuk memperlihatkan corak haluannya, para KBI memakai setangan leher “merah-putih” dan berpanji serupa itu juga.
4)     Rintangan-rintangan yang dialami
Gerakan Kepanduan Indonesia, seperti juga gerakan lainnya dari Bangsa Indonesia, dicurigai dan dihalangi oleh : Pemerintah Kolonial Belanda.
Larangan-larangan yang berupa perintah halus, maupun terang-terangan dikenakan kepada “Kepanduan Nasional”.
Pemimpinnya ada yang ditangkap, dan pandu-pandu ditakut-takuti, banyak sekali rintangan-rintangan yang dialami pada jaman penjajahan tetapi justru itulah maka gerakan nasional tetap terpelihara hidupnya, sambil mencari jalan sendiri kearah cita-cita bangsa Indonesia.
5)     Perwujudan cita-cita persatuan
Berkat keteguhan dari para pemimpin, maka segala usaha untuk mematikan atau membelokkan arah tujuan kepanduan Indonesia tidak berhasil.
Sebaliknya perhatian masyarakat Indonesia makin tertarik pada cara pendidikan kepanduan, ternyata dari tumbuhnya organisasi-organisasi kepanduan nasional dari berbagai kalangan, seperti tersebut dimuka.
Untuk melanjutkan cita-cita persatuan yang telah dirintis oleh PAPI, maka pada tanggal 30 April 1938 oleh KBI, SIAP, NITIPIJ dan HW diadakan komperensi bersama, yang berhasil membentuk “Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia” (BPPKI). Sebagai langkah pertama untuk melaksanakan tujuannya, maka BPPKI akan menyelenggarakan perkemahan umum secara besar-besaran.
Pada tanggal 11 Februari 1941 dalam komperensi di Solo, BPPKI antara lain menetapkan untuk mengadakan perkemahan besar yang dinamakan “Perkemahan Kepanduan Indonesia Umum” disingkat PERKINDO (U dalam ejaan OE) di Yogyakarta dalam bulan Juli 1941.
6)     Kepanduan Indonesia dalam masa kependudukan Jepang
Pada permulaan bulan Maret 1942 bala tentara Jepang dengan cepat dapat menaklukan Hindia Belanda dan menguasai seluruh daerahnya. Empat bulan kemudian oleh Pemerintah Bala Tentara Jepang dikeluarkan larangan berdirinya segenap partai dan organisasi rakyat Indonesia. Walaupun demikian diusahakan sekuat tenaga untuk mendirikan kembali organisasi kepanduan.
Pada tanggal 6 Februari 1943 Pandu-pandu dari macam-macam perkumpulan yang telah dibubarkan berhasil mengadakan PERKINDO II di Jakarta, untuk betapa besarnya guna kepanduan bagi masyarakat. Tetapi ternyata pemerintah militer Jepang sudah mempunyai maksud tertentu, Gerakan Kepanduan Indonesia tidak boleh dilangsungkan, dan sebagai gantinya anak-anak dan pemuda Indonesia dimasukkan dalam gerakan “Keibodan dan Seinendan”.
3.      KEPANDUAN DI INDONESIA SETELAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN
a.      Tahun 1945-1950 (masa perjuangan fisik)
1)     Tidak lama setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, berkobarlah api revolusi di seluruh Tanah Air Indonesia.
Seluruh rakyat, tua dan muda bergerak serentak dan menghancurkan segala rintangan yang menghalangi atau menghambat kemerdekaan. Pada saat-saat itu pula pandu-pandu Indonesia, puteri dan putera yang telah tersebar dikalangan masyarakat, ikut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia. Didalam keadaan revolusi inilah dikalangan pemimpin timbul cita-cita untuk menghidupkan kembali organisasi kepanduan Indonesia.
Tetapi bentuk dan sifatnya harus berlainan dengan kepanduan pada jaman penjajahan dahulu, sesuai dengan kehendak masa dan tidak lagi terpecah belah.
Pandu-pandu Indonesia harus bersatu dalam tekad dan langkahnya untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiwi.
2)     Pada tanggal 28 Desember 1945 oleh kongres Kepanduan di Indonesia yang diselenggarakan di Solo, telah diambil keputusan dengan cara bulat untuk menjelmakan suatu organisasi Kepanduan Indonesia baru, yang sifat dan ujudnya Kesatuan” dengan nama “Pandu Rakyat Iandonesia”. Dalam upacara pelantikan yang dipimpin oleh Dr. Moewardi almarhum keluarlah “Janji Ikatan Sakti” yang berbunyi :
a)    Melebur segenap perkumpulan kepanduan Indonesia dan dijadikan satu organisasi kepanduan : Pandu Rakyat Indonesia.
b)    Tidak akan menghidupkan lagi kepanduanlama.
c)    Tangagl 28 Desember diakuisebagai hari Pandu bagi seluruh Indonesia
d)    Mengganti setangan leher yang beraneka warnanya dengan warna “hitam”.
3)     Setelah berjalan setahun, maka akhir bulan Desember 1946 berlangsunglah kongres Pandu Rakyat ke-1 di Surakarta.
Selama setahun tidak begitu banyak soal yang dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia. Tindakan pucuk pimpinan terutama ditujukan untuk memperkuat organisasi kedalam mengingat suasana revolusi sedang menghebat di seluruh Tanah Air Indonesia.
4)     Tahun 1947 adalah tahun kelanjutan usaha Pengurus Besar dengan menghadapi banyak kesukaran, karena Belanda mulai memperlihatkan keiinginannya akan melenyapkan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.
Hal ini mencapai puncaknya setelah Belanda terang-terangan menimbulkan perang kolonial mulai tanggal 21 Juli 1947.
5)     Tahun 1948 merupakan waktu yang tersulit bagi pucuk pimpinan organisasi.
Keadaan dalam negeri Indonesia setelah kacau sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam segala lapangan. Dengan adanya serbuan militer Belanda didaerah-daerah Republik Indonesia sejak tanggal 21 Juli 1947, maka hubungan dengan cabang-cabang Pandu Rakyat Indonesia di daerah-daerah yang diduduki Belanda terputus.
6)     Pada pertengahan bulan Januari 1950 dalam Kongres Pandu Rakyat Indonesia ke II di Yoyakarta diputuskan bahwa Pandu Rakyat Indonesia berbentuk kesatuan yang memperhatikan dan memberi kesempatan kepada golongan-golongan khusus agama untuk menyelenggarakan kebutuhan masing-masing.
7)     Didalam meriwayatkan Gerakan Kepanduan Indonesia tidak boleh dilupakan adanya golongan pandu puteri yang tidak pernah terlepas sama sekali dari ikatan organisasi kepanduan Indonesia pada umumnya. Begitu pula dalam organisasi Pandu Rakyat Indonesia, untuk mengurus segala soal Pandu Puteri pada tanggal 22 Agustus 1949 dibentuk Kwartir Besar Pandu Puteri darurat.
b.      Tahun 1960-1961 (masa pemerintahan liberal).
1)     Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1949, maka dalam masa pemerintahan liberal terbuka lagi kesempatan kepada siapapun untuk membentuk organisasi-organisasi kepanduan.
Menjelang tahun 1961, gerakan kepanduan Indonesia telah terpecah menjadi lebih dari 100 organisasi kepanduan. Keadaan demikian dirasakan sangat melemahkan gerakan kepanduan Indonesia, meskipun sebagian dari organisasi-organisasi itu terhimpun di dalam tiga federasi, yaitu :
a.    IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia untuk Putera)
b.    PAPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia)
c.    P.K.P.I (Perserikatan Kepanduan Puteri Indonesia)
2)     Mengalami kelemahan itu, maka ketiga federasi kepanduan tersebut melebur dirinya menjadi satu federasi menjadi nama :PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia). Akan tetapi, hanya kira-kira 60 saja dari 100 lebih organisasi kepanduan itu yang ikut terhimpun di dalam federasi PERKINDO. Lagi pula, di dalam federasi itu sebagian dari 60 organisasi PERKINDO, terutama yang menjadi “onderbouw” dari organisasi politik atau masyarakat, tetap berhadap-hadapan berlawanan satu sama lain, sehingga tetap dirasakan kelemahan gerakan kepanduan Indonesia.
3)     Oleh PERKINDO dibentuk suatu panitia untuk memikirkan suatu jalan keluar. Panitia itu menyimpulkan bahwa selain lemah karenaa terpecah-pecah gerakan kepanduan Indonesia itu lemah pula karena terpaku dalam cengkraman gaya tradisional/konvensional dari kepanduan Inggris pembawaan dari luar.
Hal iini berakhir dan berakibat bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh gerakan kepanduan Indonesia ketika itu, belum disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan nasional Indonesia, sehingga pada waktu itu kurang mendapat respon dari masyarakat Indonesia.
Kepanduan hanya bergerak di kota-kota besar, dan disitupun hanya  terdapat pada lingkungan orang-orang yang sedikit banyaknya sudah berpendidikan Barat.
c.      Tahun 1961-1978 (setelah kembali ke Undang-Undang Dasar 1945)
1.    Pihak komunis mau mempergunakan kelemahan gerakan kepanduan Indonesia seperti tersebut di atas, sebagai alasn untuk memaksa gerakan kepanduan Indonesia menjadi gerakan pionir muda sebagaimana terdapat di negara-negara komunis.
2.    Akan tetapi kekuatan-kekuatan Pancasila di dalam PERKINDO menentangnya, dan dengan bantuan Perdana Menteri Ir. H. Djuanda perjuangan mereka menghasilkan KEPPRES RI. No. 238 tahun 1961 yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Ir. Djuanda sebagai Pejabat Republik Indonesia.
3.    Dengan dikeluarkannya KEPPRES RI. No. 238 itu, maka PERKINDO berhasil untuk mempersatukan gerakan kepanduan Indonesia seluruhnya, dengan nama : GERAKAN PENDIDIKAN KEPANDUAN PRAJA MUDA KARANA (PRAMUKA). Semua organisasi kepanduan Indonesia, kecuali yang diselenggarakan oleh pihak komunis, melebur diri ke dalam Gerakan Pramuka.
Di dalam KEPPRES tersebut ditetapkan bahwa di seluruh wilayah Republik Indonesia perkumpulan Gerakan Pramuka adalah satu-satunya badan yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan kepanduan.
4.    Setelah terjadi pengkhianatan G.30.S/PKI pada tanggal 1 Oktober 1965, maka dalam waktu yang relatif sangat singkat, terjadi suatu “Perubahan Sosial” dengan timbulnya “Orde Baru” yang menuntut pemurnian Undang-Undang Dasar 1945. Demikian pula Gerakan Pramuka tidak ketinggalan untuk menyesuaikan diri dan menyerasikan pelaksanaan tugas pokoknya dengan perkembangan masyarkat Indonesia pada waktu itu.
5.    Pada tanggal 12 sampai dengan 20 Oktober 1970 telah diadakan Musyawarah Majelis Permusyawaratan Pramuka I di Pandaan, Jawa Timur. Salah satu hasil musyawarh tersebut adalah mengganti Anggaran Dasar Gerakan Pramuka sebagaimana terlampir pada KEPPRES No. 238 tahun 1961 dengan Anggaran Dasar baru yang lebih disesuaikan dna diserasikan dengan perkembangan masyarakat Orde Baru.
Kemudian pada tanggal 22 Maret 1971 Anggaran Dasar baru tersebut telah disahkan dengan KEPPRES No. 12 tahun 1971.
6.     Ketentuan di dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka tentang prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia, membawa kemudian banyak perubahan. Prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang universal tetap dipegang, tetapi cara pelaksanaannya dan pengarahannya diubah, yaitu dengan keadaan dan kebutuhan nasional di tiap-tiap daerah di Indonesia.
7.    Gerakan Pramuka itu ternyata lebih kuat organisasinya, dan ternyata memperoleh tanggapan positif dari masayrakat luas, sehingga dalam waktu singkat organisasinya tealh berkembang dari kota-kota sampai di desa-desa.
Kemajuan pesat itu adalah juga berkat adanya sistim “Majelis Pembimbing” yang dijalankan oleh Gerakan Pramuka pada tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan.
8.    Mengingat bahwa kira-kira 80% dari seluruh penduduk Indonesia tinggal di desa, dan kira-kira 75% adalah keluarga-keluarga petani, maka KWARNAS Gerakan Pramuka pada tahun organisasi yang pertama (tahun 1961) sudah menganjurkan agar para Pramuka menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di bidang pembangunan pertanian dan di bidang pembangunan masyarakat desa.
Maka kemudian pada tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua KWARNAS Gerakan Pramuka mengeluarkan suatu Insruksi Bersama yaitu pembentukan satuan-satuan Karya Pramuka Tarunabumi.
9.    Kegiatan Satuan Karya Tarunabumi ternyata membawa pembaharuan, bahkan membawa semangat untuk mengusahakan penemuan-penemuan baru (inovation) pada pemuda-pemuda desa, yang selanjutnya mempengatuhi seluruh masyarakat desa.
Perluasan Gerakan Pramuka sampai di desa-desa, kegiatan-kegiatan di bidang pembangunan pertanian dan pembangunan desa, serta pembentukan dan penyelenggaraan satuan-satuan karya Pramuka Tarunabumi telah mengalami kemajuan pesat, sehingga menarik perhatian badan-badan internasional seperti FAO, UNICEF, ILO, dan World Scout Bureau, serta mendapat pujian dari masyarakat Indonesia sendiri.
10.  Dalam perkembangan masyarakat Indonesia dewasa ini dihadapi berbagai masalah sosial, seperti kepadatan penduduk, urbanisasi, pengangguran dan sebagainya.
Berhubung dengan itu, maka pada tahun 1970 Menteri TRANSKOP dan Ketua KWARNAS Gerakan Pramuka mengeluarkan suatu Instruksi Bersama, tentang partisipasi Gerakan Pramuka dalam penyelenggaraan Transmigrasi dan pembinaan Gerakan Koperasi.
Dan sehubungan dengan masalah “Scholl Drops Out” (anak-anak putus sekolah), maka Gerakan Pramuka juga mengarahkan perhatiannya kepada pendidikan kejuruan, untuk memberi bekal hidup kepada anak-anak dan pemuda, terutama kepada “School Drops Out” itu .
Di samping satuan-satuan Karya Tarunabumi juga ada satuan-satuan Karya Pramuka Dirgantara, Pramuka Bahari, dan Pramuka Bhayangkara, yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di bidangnya masing-masing.
11.  Pada bulan Nopember 1974 telah diselenggarakan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka di Manado, Sulut, yang menghasilkan Keputusan sebagai berikut :
a)    KEPMUNAS Gerakan Pramuka No. 01/MUNAS/74, tentang : Laporan dan pertanggungjawaban KWARNAS Gerakan Pramuka masa bakti 1970-1974.
b)    KEPMUNAS Gerakan Pramuka No. 02/MUNAS/74 tentang : Pelimpahan wewenang kepada KWARNAS Gerakan Pramuka untuk meninjau kembali ART Gerakan Pramuka.
c)    KEPUMUNAS Gerakan Pramuka No. 03/MUNAS/74 tentang : Pengelolaan Keuangan KWARNAS dan pembentukan Panitia Verifikasi laporan keuangan KWARNAS Gerakan Pramuka.
d)    KEPMUNAS Gerakan Pramuka No. 04/MUNAS/74 tentang : Pedoman Dasar Rencana Kerja Gerakan Pramuka Tahun 1974-1978.
e)    KEPMUNAS Gerakan Pramuka No. 05/MUNAS/74 tentang : Penunjukan formatur KWARNAS Gerakan Pramuka masa bakti 1974-1978.
12.  Masa bakti KWARNAS Gerakan Pramuka masa bakti 1974-1978 merupakan fase konsolidasi organisasi Gerakan Pramuka dan peningkatan pendidikan dan kegiatan kepramukaan antara lain dengan jalan menimbulkan “image” yang baik terhadap anak didik sendiri, bahwa Gerakan Pramuka tidak saja akan membawa dirinya ke masa depan yang cemerlang, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggungjawab dan dapat berbuat banyak bagi pembangunan bangsa dan negara, serta dalam rangka peningkatan Ketahanan Nasional.
d.      Tahun 1978 dan selanjutnya
1.    Kalau masa bakti Kwarnas tahun 1974-1978 merupakan fase konsolidasi bagi Gerakan Pramuka, maka setelah MUNAS 1978 yang diselenggarakan pada akhir Oktober 1978 di Bukittinggi, Sumatera Barat, diharapkan beralih kepada fase stabilisasi baik dalam pengelolaan organisasi dan administrasi Gerakan Pramuka maupun dalam pengelolaan pendidikan dan kegiatan kepramukaan.
2.    Untuk minimal 2 kali masa bakti KWARNAS Gerakan Pramuka diharapkan adanya peningkatan usaha ke dalam dengan mempersiapkan generasi muda melalui Gerakan Pramuka, agar :
a)    Mempunyai tanggungjawab terhadap bangsa dan negara.
b)    Mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri untuk berdikari dan berwiraswasta.
c)    Ikut secara aktif dalam memberantas kebodohan dan kemelaratan.
3.    Juga diharapkan dapat membina kontinuitas pemupukan kepemimpinan sejak umur 7 tahun (usia pramuka siaga).

Follow us

...KLIK PADA JUDUL POSTING UNTUK DAPAT MENAMBAH KOMENTAR...

SCOUT'S RADIO